Logika atau penarikan kesimpulan secara umum memiliki dua jenis cara yaitu:
- Logika induktif; yaitu merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.
Contoh logika induktif ;
Gajah punya mata
Ayam punya mata
Demikian juga binatang lainnya
Kesimpulan, semua binatang punya mata
Logika induktif sangat ekonomis dan mudah untuk dilanjutkan proses penalaran setelahnya baik secara deduktif maupun induktif.
- Logika deduktif; yaitu sudah pasti kebalikan dari induktif, dimana ditarik suatu kesimpulan khusus dari suatu kesimpulan umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola pikir silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan tersebut bersifat mendukung yang kemudian dibedakan sebagai premis mayor dan minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
Contoh silogisme:
Semua Makhluk mempunyai mata (mayor)
Si A adalah seorang makhluk (minor)
Jadi, si Polan mempunyai mata (kesimpulan)
Kebenaran penarikan kesimpulan ini dapat diperiksa dengan menganalisa
kebenaran dari premis-premis yang mendukungnya. Namun dapat terjadi
pula kondisi premis yang mendukungnya benar namun penarikan
kesimpulannya yang salah. Cara penarikan kesimpulan seperti ini sama
dengan yang kita lakukan di matematika.Nalar
Kedua, dan yang paling utama penalaran. Yaitu kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangkan berpikir tertentu. Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara penarikan kesimpulan tertentu. Cara penarikan kesimpulan inilah yang kita kenal dengan logika. Diman logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara shahih” (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar