Minggu, 30 Desember 2018

Manajemen kegiatan olahraga/seni (Perencanaan pelaksanaan dan tata kelola kegiatan olahraga)

Pengertian Olahraga Dan Seni
a.     Olahraga adalah sebagai salah satu aktivitas fisik maupun psikis seseorang yang  berguna untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan seseorang setelah olahraga.
b.     Seni adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan dan mampu membangkitkan perasaan orang lain.
Hubungan Antara Olahraga Dan Seni
    Hubungan antara olahraga dengan seni semakin menarik perhatian masyarakat untuk hidup sehat. Olahraga juga memiliki kesenian. Memang sebagian olahraga meiliki gerakan monoton itu – itu saja, terkesan membosankan. Namun, kini olahraga bisa dikombinasikan seni tari, musik. Misalnya aerobik, dance, dan bela diri. Mereka salah satu olahraga yang melibatkan rasa seni.
            Hubungan antara olahraga dengan seni dalam senam lantai memiliki nilai seni. Seni disini bukan seni lukis atau gambar. Tetapi lebih pada kebebasan untuk mengekspresikan gerak. Karena dalam olahraga senam, seseorang dibebaskan menciptakan gerakan tertentu. Tentu saja yang gerakan yang masih sama dengan gerakan dasar. Setidaknya selain ada seni satra dan drama, ada juga seni gerak, musik yang digabungkan dengan senam.
            Bahkan ada satu olahraga yang cukup menarik dan bervariasi, tidak cepat bosan dan menantang, yaitu olahraga bersepeda. Hubungan antara olahraga dengan seni bersepeda saat ini tentu saja. Coba lihat, banyak sekali pencinta sepeda yang melakukan variasi gerakan melompat diatas sepeda, bahkan pencinta sepeda begitu aktraktif memainkan sepeda sebegitu lincah dan memukau. Inilah aneka ragam olahraga dengan seni. Olahraga serasa tidak berolahraga, alias bermain – main. Selain sehat, secara tidak langsung juga memperoleh rekreasi fisik dan rohani.
Seni dan Olahraga merupakan kegiatan yang sering dilakukan seseorang dengan berbagai maksud dan tujuan, keduanya bila dijadikan satu akan membentuk suatu keindahan yang tiada duanya. dan lama - kelamaan akan menjadi suatu kegiatan kebiasaan bagi semua orang.
Berikut beberapa persamaan olahraga dan seni :
  1. Sama - sama menampilkan pertunjukan yang akan membuat penonton berdecak kagum atas yang dilakukannya.
  2. Membuat skor atau nilai sebanyak - banyaknya agar mendapatkan juara ke 1.
  3. Menampilkan suatu kegiatan diluar dugaan yang akan membuat penonton penasaran dan ingin terus menontonnya.

Manajemen kegiatan olahraga/seni (Perencanaan pelaksanaan dan tata kelola kegiatan olahraga)

Tingkatkan Prestasi Melalui Tata Kelola Manajemen Organisasi Olahraga

Buleleng - Asisten Deputi Peningkatan Tenaga dan Oraganisasi Keolahragaan kembali menggelar pelatihan manajemen Olahraga dan kapasitas pengelolaan organisasi olahraga fungsional, profesional dan prestasi yang diselengarakan di Hotel Gran Surya Buleleng Bali, 22-24 Juli 2017. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng, Gde Suyase.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh 100 peserta yang merupakan pengurus KONI Provinsi Bali, para pengurus cabang olahraga Kabupaten Buleleng, pelatih olahraga, Guru dan praktisi olahraga.
Dalam sambutannya Gde Suyase menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga yang menjadikan Buleleng tempat penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Manejemen Olahraga dan Kapasitas Pengelolaan Organisasi Olahraga Fungsional, Profesional dan Prestasi. Selain itu melalui kegiatan ini diharapkan para pengelola organisasi keolahragaan di Bali khususnya di Kabupaten Buleleng dapat memahami arti pentingnya peran organisasi dalam meningkatkan prestasi atlet melalui tata kelola organisasi yang profesional dan terlibat langsung dalam proses pembinaan untuk pencapaian prestasi bagi seorang atlet.
Sebelumnya, Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pelatih dan Instruktur Ahmad Arsani, menyampaikan laporannya, bahwa penyelenggaraan kegiatan ini merupakan amanah dari UU No. 4 Tahun 2015 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Mengenai pembinaan bagi para pengurus cabang olahraga mapun pengurus organisasi olahraga untuk mampu menjalankan roda organisasi secara prifesional, transparan dan akuntabel.

“Selain amanah UU, target pencapaian dari kegiatan ini adalah, pertama, meningkatkan peranan induk organisasi keolahragaan dalam meningkatkan prrstasi olahraga di daerah. Kedua, meningkatkan kualitas pengelolaan induk organisasi keolahragaan, dan 3. Meningkatkan kopetensi menejemen pengelolaan dan pembinaan organisasi olahraga didaerah, “ ujar Arsani.
Hadir dalam kegiatan tata kelola Peningkatan Manajemen Organisasi Keolahragaan, anggota BSANK Dr. Soni Teguh Trilaksono, Ketua KONI Kabupaten Buleleng Wayan Marte, Ketua NPC Kabupaten Buleleng I Komang Suvira, Jambi. Selain itu juga dihadiri oleh perwakilan Pengurus Persatuan Guru Olahhraga (PGO), BAPOR KORPRI, BAPOPSI dan Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FORMI).

Manajemen kegiatan olahraga/seni (Perencanaan pelaksanaan dan tata kelola kegiatan olahraga)

Perencanaan Dalam Manajemen Pendidikan Jasmani


Perencanaan (planning) adalah salah satu fungsi manajemen yang  pertama dilakukan,  sehingga  perencanaan  merupakan  salah  satu  syarat mutlak untuk dapat dilakukan manajemen yang baik. Dengan perencanaan  yang  baik berarti kita  melakukan  tindakan-tindakan  yang paling baik dan ekonomis.
Perencanaan  merupakan salah satu fungsi  manajemen,  yang akan berhubungan dengan beberapa pertanyaan yang dikenal 4W+1H, sebagai berikut:
What/ apa ?
Apa tujuan (target) yang akan dicapai.
Who/ Siapa ?
Siapa yang mengerjakan; ini berarti merumuskan struktur organisasi dan pemilihan personalnya.
Siapa yang akan digerakkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Where/ dimana ?
Dimana akan dilakukan kegiatan ?
When/ Kapan ?
Kapan dipersiapkan dan dimulai kegiatannya
How / Bagaimana ?
Bagaimana cara geraknya.
Bagaimana isi sifat dan bentuk pekerjaannya.
Status, wewenang, dan tanggungjawabnya bagaimana.

1.   BeberapaPengertian Perencanaan
a)    Louis A Allen: Planning is the determination of the course of action to achive adesired result.
b)    Perencanaan adalah  menentukan serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
c)    George R. Terry: Perencanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta, membuat dan menggunakan  asumsi-asumsi  mengenai masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan  kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk  mencapai  hasil yang diperlukan.
d)    Billy E. Goetz: Perencanaan ialah pemilihan kegiatan yang  fundamental dan masalah perencanaan ini akan timbul jika terdapat alternatif-alternatif.
Dari  beberapa  definisi  itu  Hasibuan  (1984)  menyimpulkan sebagai berikut: Perencanaan adalah pekerjaan mental untuk  memilih  sasaran,  kebijaksanaan, prosedur, program  yang  diperlukan untuk mencapai apa yang diinginkan pada masa yang akan datang. Sedangkan  rencana (plan) diartikan sejumlah  keputusan  yang menjadi  pedoman  untuk  mencapai suatu   tujuan  tertentu.  Jadi setiap rencana mengandung dua unsur yaitu “tujuan” dan “pedoman“.
2. Syarat-Syarat Perencanaan
a)    Merumuskan dahulu masalah yang akan direncanakan.
b)    Perencanaan  harus didasarkan pada informasi,  data,  dan fakta.
c)    Menetapkan beberapa alternatif dan premisenya.
d)    Putuskanlah suatu keputusan yang menjadi rencana.
3. Syarat-syarat Rencana Yang Baik
a)    Tujuan harus jelas, rasional, obyektif, dan cukup  menantang untuk diperjuangkan.
b)    Rencana  harus  mudah dipahami  dan  penafsirannya  hanya satu.
c)    Rencana harus dapat dipakai sebagai pedoman untuk bertindak ekonomis.
d)    Rencana harus menjadi dasar dan alat untuk  mengendalikan semua tindakan.
e)    Rencana harus dapat dikerjakan oleh sekelompok orang.
f)       Rencana harus menunjukkan urutan-urutan dan waktu  pekerjaan.
g)    Rencana harus fleksibel.
h)    Rencana harus berkesinambungan.
i)       Rencana  harus meliputi semua tindakan yang akan  dilakukan.
j)       Rencana  harus berimbang artinya pemberian  tugas  harus berimbang dengan penyediaan fasilitas.
k)     Rencana  tidak  boleh  bertentangan  antar   departemen, tetapi hendaknya saling mendukung.
l)       Rencana harus sensitif terhadap situasi sehingga terbuka kemungkinan  untuk  mengubah  teknik  pelaksanaan  tanpa mengalami perubahan pada tujuannya (Hasibuan: 1983).
Menurut  Louis  Allen: Kegiatan yang  dilakukan  dalam  fungsi perencanaan adalah sbb:
  1. Peramalan (Forecasting )
  2. 2. Penetapan sasaran (establishing objectives)
  3. Pemrograman (programming)
  4. 4. Penjadwalan (scheduling)
  5. Penganggaran (Budgeting)
  6. 6. Pengembanagn prosedur (Developing procedure)
  7. 7. Penetapan  dan penafsiran kebijaksanaan  (establishing  and interpreting policies)

Jika ditinjau dari Jangka Waktu pelaksanaan, perencanaan di kelompokkan menjadi 3, yaitu:

  1. Rencana jangka panjang (long term planning) —lebih 5 th
  2. Rencana jangka menengah  (middle term planning)  2-5 th
  3. Rencana jangka pendek  (short term planning)         1-2 th

Kamis, 13 Desember 2018

Manajemen kegiatan olahraga/seni (Perencanaan pelaksanaan dan tata kelola kegiatan olahraga)

Manajemen Olahraga
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengelola atau mengatur
Defenisi manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organiasi lainnya untuk mencapai tujuan.(Bucher&Krotee,1993:4)
Apa sih pengertian dari Manajemen Olahraga ?
Manajemen olahraga adalah suatu kombinasi keterampilan yg berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian, penganggaran, dan evaluasi dlm kontek suatu organisasi yg memiliki produk utama berkaitan dg olahraga.(Janet Park,1998:4)
Pengkombinasian tsb perlu SDM yg terlibat dlm organisasi, bersatu dlm sebuah sistem bahu membahu bekerja utk mencapai tujuan
Manajer adalah orang salah satu orang yg utama dlm organisasi olahraga karena harus mampu merencanakan, mengambil keputusan, melakukan koordinasi serta memotivasi produktivitas karyawan dan hubungan antar pengurus, memahami dan mengerti fungsi-fungsi manajemen

Perencanaan pelaksanaan pengelolaan kegiatan olahraga
Merupakan tindakan teratur dengan didasari pemikiran yg cermat sebelum melakukan usaha pencapaian tujuan yg telah ditentukan
Perencanaan ini terdiri dari 5W+1H
1. What(apa yang akan dikerjakan /materi apa)
2. why(mengapa pekerjaan itu dilaksanakan/dasar pertimbangan)
3. who(siapa yg mengerjakan/pelaksana),
4. where(dimana akan dikerjakan), when(kapan waktunya)
5. how(bagaimana mengerjakannya/tatakerja)

2. Pengorganisasian
Merupakan proses aktivitas kerjasama antar fungsi dalam manajemen untuk mencapai tujuan.
Aktivitas ini berusaha menghubungkan orang-orang dan job deskripsinya agar tidak ada ketumpang tindihan

3. Penentuan keputusan
Merupakan aktivitas mengahkiri pertentangan mengenai sesuatu hal atau pemilihan terhadap macam-macam alternatif selama kerja sama berlangsung

4. Pembimbingan /directing
Merupakan aktivitas memberikan petunjuk atau perintah untuk mempengaruhi dan mengerahkan anggota dalam kerjasma

5. Pengendalian
Merupakan aktivitas yg berusaha agar kerjasama itu dapat berhasil sesuai dengan rencana, perintah, petunjuk serta ketentuan-ketentuan lain yg telah ditetapkan dengan mengawasi, memerikasa dan mencocokan segala sesuatu, apakah sudah berjalan dengan baik dlm usaha pencapaian tujuan bersama

6. Evaluasi
Merupakan aktivitas yg berusaha memperbaiki dan menyempurnakan segala segi dlm usaha kerjasama. Aktivitas itu terutama ditujukan kepada struktur organisasi dan metode kerjasama .

Pengertian dan Jenis karya ilmiah, struktur karya ilmiah, pendekatan ilmiah kualitatif dan kuantitatif

Pengertian dan Jenis karya ilmiah
Karya Tulis Ilmiah biasa disingkat Karya Ilmiah (Scientific Paper)-- adalah tulisan atau laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian suatu masalah oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Karya ilmiah sering juga disebut "tulisan akademis" (academic writing) karena biasa ditulis oleh kalangan kampus perguruan tinggi --dosen dan mahasiswa. Karya ilmiah berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berupa penjelasan (explanation), prediksi (prediction), dan pengawasan (control).

Jenis-Jenis Karya Tulis Ilmiah

1. Artikel
Dalam istilah jurnalistik, artikel adalah tulisan berisi pendapat subjektif penulisanya tentang suatu masalah atau peristiwa.

Dalam konteks ilmiah, artikel adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati. Artikel ilmiah diangkat dari hasil pemikiran dan kajian pustaka atau hasil pengembangan proyek.

Sistematika Artikel:
  1. Judul
  2. Nama Penulis -- tanpa gelar akademik
  3. Abstrak --ringkasan tulisan, gambaran umum isi artikel.
  4. Kata Kunci --3-5 keywords.
  5. Pendahuluan -- latar belakang masalah dan rumusan singkat (1-2 kalimat) pokok bahasan dan tujuannya.
  6. Kerangka Teori (Kajian Teori) --dasar teori yang menjadi acuan.
  7. Pembahasan --kupasan, analisis, argumentasi, komparasi, keputusan, dan pendirian atau sikap penulis
  8. Penutup -- simpulan dan saran
  9. Daftar Pustaka
2. Makalah
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Makalah biasanya disajikan dalam sebuah seminar atau dipresentasikan di kelas (tugas perkuliahan).

Makalah juga diartikan sebagai karya ilmiah mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan. Makalah mahasiswa umumnya merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan suatu perkuliahan, baik berupa kajian pustaka maupun hasil kegiatan perkuliahan lapangan.

Pengertian yang lain dari makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertasi analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.

Sistematika Makalah:
  1. Pendahuluan
  2. Pembahasan
  3. Kesimpulan
3. Kertas Kerja
Kertas kerja (work paper) pada prinsipnya sama dengan makalah, namun dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam dan dipresentasikan pada seminar atau lokakarya yang biasanya dihadiri oleh ilmuwan. Kertas kerja itu menjadi acuan untuk tujuan tertentu dan bisa diterima atau dimentahkan oleh forum ilmiah.

4. Paper
Paper adalah sebutan khusus untuk makalah di kalangan akademisi (mahasiswa) dalam kaitannya dengan pembelajaran dan pendidikannya sebelum menyelesaikan jenjang studi (Diploma/S1/S2/S3). Sistematika penulisannya sama dengan artikel atau makalah, tergantung panduan yang berlaku di perguruan tinggi masing-masing.

5. Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang studi S1 (Sarjana). Skripsi berisi tulisan sistematis yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendaagt (teori) orang lain.

Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik bedasarkan penelitian langsung (obsevasi lapangan, atau percobaan di laboratorium), juga diperlukan sumbangan material berupa temuan baru dalam segi tata kerja, dalil-dalil, atau hukum tertentu tentang salah satu aspek atau lebih di bidang spesialisasinya.

6. Tesis 
Tesis adalah karya tulis ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang studi S2 (Pasca Sarjana) yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan dengan skripsi. Tesis mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri.

7. Disertasi 
Disertasi --disebut juga "Ph.D Thesis"-- adalah karya tulis ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang studi S3 (meraih gelar Doktor/Dr) yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dengan analisis yang terinci). Disertasi ini berisi suatu temuan penulis sendiri, yang berupa temuan orisinal.

8. Artikel Ilmiah Populer
Selain ketujuh jenis karya ilmiah, ada juga yang disebut artikel ilmiah populer, yaitu artikel ilmiah yang ditulis dengan gaya bahasa populer (bahasa media/bahasa jurnalistik) untuk dimuat di media massa (suratkabar, majalah, tabloid).

Berbeda dengan artikel ilmiah, artikel ilmiah popular tidak terikat secara ketat dengan aturan penulisan ilmiah. Artikel ilmiah ditulis lebih bersifat umum, untuk konsumsi publik. Dinamakan ilmiah populer karena ditulis bukan untuk keperluan akademik, tetapi untuk "dikomunikasikan" kepada publik melalui media massa.

Artikel ilmiah populer bisa hasil penelitian ilmiah, namun disajikan dengan lebih ringkas dan lugas, bisa pula dibuat berdasarkan berpikir deduktif atau induktif, atau gabungan keduanya yang bisa ‘dibungkus’ dengan opini penulis.
Stuktur Karya Ilmiah
  1. HALAMAN JUDUL
  2. HALAMAN PENGESAHAN
  3. SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS
  4. KATA PENGANTAR
  5. DAFTAR ISI
  6. DAFTAR TABEL
  7. DAFTAR GAMBAR
  8. ABSTRAK
  9. BAB 1 PENDAHULUAN
                   1.1  Latar Belakang
                   1.2  Rumusan Masalah
                   1.3  Tujuan Penelitian
                   1.4  Manfaat Penelitian
   10. BAB II KAJIAN PUSTAKA/TINJAUAN PUSTAKA
   11. BAB III METODE PENELITIAN
                    3.1  Jenis Penelitian
                    3.2  Waktu dan Tempat Penelitian
                    3.3  Populasi
                    3.4  Sampel
                    3.5  Teknik Pengumpulan Data
                    3.6  Responden Penelitian
                    3.7  Teknik Analisis Data
   14. BAB IV PEMBAHASAN 
   15. BAB V KESIMPULAN
                     5.1 Simpulan
                     5.2 Saran
   16. DAFTAR PUSTAKA
   17.LAMPIRAN
   18.  BIOGRAFI PENULIS 
Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan disipliner dan pendekatan ilmu pengetahuan yang fungsional terhadap masalah tertentu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia; PN Balai Pustaka, 1989). Pendekatan ilmiah wujudnya adalah metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapat lewat metode ilmiah.
Menurut Checkland (1993), berdasarkan sejarah perkembangan ilmu, didapatkan tiga karakteristik utama dari pendekatan ilmiah, yaitu:
1. Reductionism
2. Repeatability
3. Refutation
Reductionism adalah pendekatan yang mereduksi kompleksitas permasalahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga dapat dengan mudah diamati dan diteliti.
Sifat kedua dari ilmu adalah repeatability, yaitu suatu pengetahuan disebut ilmu, bila pengetahuan tersebut dapat dicheck dengan mengulang eksperimen atau penelitian yang dilakukan oleh orang lain di tempat dan waktu yang berbeda.Sifat ilmu yang ketiga adalah refutation. Sifat ini mensyaratkan bahwa suatu ilmu harus memuat informasi yang dapat ditolak kebenarannya oleh orang lain.

 Kuantitatif dan Kualitatif
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk mengungkapkan gejala secara holistik-konstektual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kuantitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis pendekatan induktif.  Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, maupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya yang kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di laporan.



Perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, perumusan & pengujian hipotesis, penarikan kesimpulan

Perumusan Masalah

Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Setiap penelitian dimulai dari perumusan masalah yang dilanjutkan dengan pemecahan masalah. Perumusan masalah ini dikategorikan sebagai pertanyaan utama yang dicari dan yang akan dijawab melalui penelitian. Perumusan masalah itu muncul karena adanya gap atau kesenjangan antara kondisi realitas atau nyata (real life condition) dengan kondisi yang nantinya diharapkan (future expected condition). Uraian rumusan masalah ini harus didukung dengan teori, survei, standar, dan juga data yang relevan.
Dilihat dari penjelasan pada latar belakang diatas, ternyata masih banyak kegiatan akademik di Perguruan Tinggi Raharja yang masih melakukan survey secara manual serta masih banyak pula kegiatan-kegiatan akademik yang membutuhkan adanya survey untuk menilai sistem pelayanan yang mereka jalankan atau untuk melakukan pemilihan terhadap sesuatu namun belum pernah menggunakan metode survei.
Sesuai dengan latar belakang penelitian yang telah diuraikan pada bahasan sebelumnya, penelitian ini secara jelas berkaitan dengan sistem iLearning Survey (iSur) pada Perguruan Tinggi Raharja. Beberapa hal akan dikemukakan dan dijelaskan tentang sistem iLearning Survey (iSur) yang ada pada sistem pelayanan perguruan tinggi. Pada laporan skripsi ini akan diberikan contoh tentang sistem iLearning Survey (iSur) yang berjalan saat ini, serta adanya masalah-masalah yang terjadi pada sistem iLearning Survey (iSur) saat ini.
Selanjutnya, akan dinyatakan dan dijelaskan mengapa masalah ini penting dan menarik untuk dipecahkan. Dan akan dinilai juga dari kerugian yang akan muncul apabila masalah ini tidak terpecahkan, atau keuntungan yang akan didapatkan jika masalah ini terpecahkan. Studi elisitasi akan dilakukan dalam rangka pembuktian dan inventarisasi terhadap masalah-masalah yang muncul pada sistem iLearning Survey (iSur) ini. Kemudian akan dibuktikan melalui literature review bahwa belum ada solusi atau jawaban yang tepat atau pemecahan masalah yang memuaskan atas penelitian yang akan dilakukan ini.

Pengertian Kerangka Berpikir adalah penjelasan sementara terhadap suatu gejala yang menjadi objek permasalahan kita. Kerangka berpikir iini disusun dengan berdasarkan pada tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan atau terkait. Kerangka berpikir ini merupakan suatu argumentasi kita dalam merumuskan hipotesis. Dalam merumuskan suatu hipotesis, argumentasi kerangka berpikir menggunakan logika deduktif (untuk metode kuantitatif) dengan memakai pengetahuan ilmiah sebagai premis premis dasarnya.

Perumusan dan Pengujian Hipotesis
Hipotesis (atau ada pula yang menyebutnya dengan istilah hipotesa) dapat diartikan secara sederhana sebagai dugaan sementara. Hipotesis berasal dari bahasa Yunani hypo yang berarti di bawah dan thesis yang berarti pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Jika dimaknai secara bebas, maka hipotesis berarti pendapat yang kebenarannya masih diragukan. Untuk bisa memastikan kebenaran dari pendapat tersebut, maka suatu hipotesis harus diuji atau dibuktikan kebenarannya.
Untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis, seorang peneliti dapat dengan sengaja menciptakan suatu gejala, yakni melalui percobaan atau penelitian. Jika sebuah hipotesis telah teruji kebenarannya, maka hipotesis akan disebut teori.
Dalam penelitian ada dua jenis hipotesis yang seringkali harus dibuat oleh peneliti, yakni hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Pengujian hipotesis penelitian merujuk pada menguji apakah hipotesis tersebut betul-betul terjadi pada sampel yang diteliti atau tidak. Jika apa yang ada dalam hipotesis benar-benar terjadi, maka hipotesis penelitian terbukti, begitu pun sebaliknya. Sementara itu, pengujian hipotesis statistik berarti menguji apakah hipotesis penelitian yang telah terbukti atau tidak terbukti berdasarkan data sampel tersebut dapat diberlakukan pada populasi atau tidak.

Kamis, 22 November 2018

Bahasa, Matematika dan Statistika dalam filsafat ilmu

Matematika sebagai Bahasa
            Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artificial” yang baru menyampaikan arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa makna itu matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat dalam bahasa maka kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Lambang-lambang dari matematika dibuat secara artificial dan individual yang merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang kita kaji. Sebuah objek yang sedang kita telaah dapat kita lambangkan dengan apa saja yang sesuai dengan perjanjian kita. Pernyataan matematik mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.
B.       Sifat Kuantitatif dari Matematika
Matematika mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga maka penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif. Hal ini menyebabkan penjelasan dan ramalan dalam bahasa verbal tidak bersifat eksak, menyebabkan daya prediktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat. Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan konsep pengukuran. Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif,. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan kontrol yang lebih tepat dan cermat dalam ilmu. Pada dasarnya matematika diperlukan oleh semua disiplin keilmuan untuk meningkatkan daya prediksi dan kontrol dari ilmu tersebut.
C.      Matematika : Sarana Berfikir Deduktif
Matematika berfikir secara deduktif menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis yang tertentu. Pengetahuan yang ditemukan ini merupakan konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang telah kita temukan sebelumnya. Meskipun “tak pernah ada kejutan dalam logika” namun pengetahuan yang didapat secara deduktif ini sangat berguna dan memberikan kejutan yang sangat menyenangkan. Dari beberapa premis yang telah diketahui kebenarannya dapat ditemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah.
D.      Perkembangan Matematika
Ditinjau dari perkembangannya maka ilmu dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu:
  1. Sistematika
Pada tahap ini ilmu menggolong-golongkan objek empiris ke dalam kategori-kategori tertentu. Penggolongan ini memungkinkan untuk menemukan ciri-ciri yang bersifat umum dari anggota-anggota yang menjadi kelompok tertentu. Ciri-ciri yang bersifat umum ini merupakan pengetahuan bagi manusia dalam mengenali dunia fisik.2.  Komparatif
Pada tahap ini mulai melakukan perbandingan antara objek yang satu dengan objek yang lain, kategori yang satu dengan kategori yang lain, dan seterusnya. Kemudian mulai mencari hubungan didasarkan perbandingan antara di berbagai objek yang dikaji.
  1. Kuantitatif
Pada tahap ini mencari hubungan sebab akibat tidak lagi berdasarkan perbandingan melainkan berdasarkan pengukuran yang eksak dari objek yang sedang diselidiki. Bahasa verbal berfungsi baik dalam kedua tahap yang pertama namun dalam tahap ini maka pengetahuan membutuhkan matematika. Lambang-lambang matematika bukan hanya saja jelas namun juga eksak dengan mengandung informasi tentang objek tertentu dalam dimensi-dimensi pengukuran.
Di samping sebagai bahasa matematika berfungsi juga sebagai alat berfikir. Ilmu merupakan pengetahuan yang mendasarkan kepada analisis dalam menarik kesimpulan menurut suatu pola berpikir tertentu. Menurut Wittgenstein, matematika adalah metode berpikir logis yang dalam perkembangannya membutuhkan struktur analisis yang lebih sempurna.
Matematika pada garis besarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Tokohnya adalah Bertrand Russell dan Whitehead serta Pierre devfermat (1601-1665). Tidak semua ahli filsafat setuju dengan pernyataan bahwa matematika adalah pengetahuan yang bersifat deduktif. Tokohnya adalah Immanuel Kant (1724-1804)
Sejarah perkembangan matematika menurut Griffits dan Howson (1974) :
  1. Peradapan Mesir kuno dan daerah-daerah sekitar seperti Babylonia dan Mesopotamia
Zaman ini matematika telah digunakan dalam perdagangan, pertanian, bangunan dan usaha mengontrol alam seperti banjir. Aspek estetik dikembangkan dimana matematika merupakann kegiatan intelektual dalam kegiatan berpikir yang kreatif. Hal yang sama juga berlangsung di Babylonia dan Mesopotamia yang turut mengembangkan kegunaan praktis dalam matematika. Dalam peradapan Yunani inilah yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasional dengan menetapkan berbagai langkah dan defenisi tertentu. Euclid pada 300 SM yang mengumpulkan semua pengetahuan ilmu ukur dalam bukunya Element.
  1. Timur (Arab, India, Cina) tahun 1000
Zaman ini didapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal serta mengembangkan kegunaan praktis dari ilmu hitung dan aljabar yang telah digunakan dalam transaksi pertukaran. Ditemukan diantaranya kalkulus diferensial.
  1. Sistem matematika sebagai ilmu non euclid yang sudah dikemukakan oleh Gauss (1977-1855) dikembangkan oleh Lobachevskii (1973-1856), Bolyai (1802-1860) dan Riemann (1826-1866). Yang menemukan kegunaannya pada waktu Einstein menyusun teori Relativitas.
E.       Beberapa Aliran dalam Filsafat Matematika
  1. Logistik
Immanuel Kant (1724-1804), matematika bersifat sintetik apriori dimana eksistensi matematika bergantung dari pancaindera.
  1. Intuisionis
Jan brouwer (1881-1943), matematika cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.
  1. Formalis
Gottlob frege (1824-1925),  menekankan pada aspek formal dari matematika sebagai bahasa perlambang dan mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa lambang.
Perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan matematika malah sebaliknya dimana satu aliran memberi inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan yang disebut Black yang memperkukuh matematika sebagai sarana berpikir deduktif.
F.       Matematika dan Peradapan
Matematika dapat dikatakan hampir sama tuanya dengan peradapan manusia itu sendiri. Sekitar 3.500 SM bangsa Mesir Kuno telah mempunyai simbol-simbol yang melambangkan angka-angka. Matematika merupakan bahasa artifisial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah. Untuk itu diperlukan usaha tertentu untuk menguasai matematika dalam bentuk kegiatan belajar. Jurang antara mereka yang belajar dengan yang tidak belajar ternyata makin lama makin lebar. Matematika makin lama makin bersifat abstrak dan esoterik yang makin jauh dari tangkapan orang awam.
Matematika tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradapan manusia. Penduduk kota yang pertama adalah “makhluk yang berbicara” (talking animal), dan penduduk kota yang kurun teknologi ini adalah “makhluk yang berhitung” (calculating animal) yang hidup dalam jaringan angka-angka, bagi ilmu itu sendiri matematika meyebabkan perkembangan yang sangat cepat. Tanpa matematika maka pengetahuan akan berhenti pada tahap kualitatif yang tidak memungkinkan pada penalarannya lebih jauh.
Matematika sebagai suatu yamg imperatif : sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran deduktif. Suatu bidang keilmuan, apapun juga bidang pengkajiannya bila telah menginjak kedewasaan mau tidak mau akan bersifat kuantitatif. Ketidaktahuan tentang matematika sering menyebabkan suatu bidang keilmuan terpaku pada tahap kualitatif, dimana tanpa mengurangi rasa penghargaan kepadanya, tetap merupakan bidang keilmuan yang belum tumbuh sempurna. Angka tidak bertujuan untuk menggantikan kata-kata, pengukuran sekedar unsur menjelaskan persoalan yang menjadi pokok analisis utama. Teknik matematika yang tinggi bukan merupaka penghalang untuk mengkomunikasikan pernyataan yang dikandungnya dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Kebenaran yang merupakan fundasi dasar dari tiap pengetahuan, apakah itu ilmu, filsafat atau agama semuanya mempunyai karakteristik yang sama: sederhana, jelas: transparan bagai kristal kaca.

 STATISTIKA

Peluang merupakan dasar dari teori statistik yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno, Romawi dan bahkan Eropa pada abad pertengahan. Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam populasi tertentu.
A.      Statistika dan Cara Berpikir Induktif
Ilmu secara sederhana didefenisikan sebagai pengetahuan yang telah diuji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah bersifat faktual, dimana konsikuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindra maupun alat-alat yang membantu pancaindra tersebut. Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Kalau ditelaah lebih dalam maka pengujian merupakan proses pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Jika hipotesis itu didukung oleh fakta-fakta empiris maka peryataan tersebut diterima atau disahkan kebenarannya. Sebaliknya jika hipotesis tersebut bertentangan dengan kenyataan maka hipotesis itu ditolak.
Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Misalnya jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan itu merupakan kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun di tempat itu. Jadi, dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika deduktif. Di pihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan menggunakan deduksi. Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan sedangkan logika induktif berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.
Penarikan kesimpulan induktif pada hakikatnya berbeda dengan penarikan kesimpulan secara deduktif. Pada  penalaran deduktif, kesimpulan yang ditarik adalah benar jika premis-premis yang dipergunakan adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah. Pada penalaran induktif meskipun premis-premis yang dipergunakan adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah maka kesimpulan belum tentu benar.
Penarikan kesimpulan secara induktif  menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia maka hal yang paling logis adalah dengan jalan melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak umur 10 tahun di Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tidak diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut. Namun kegiatan seperti ini menghadapkan kepada masalah lain yang tak kurang rumitnya, yakni dalam pelaksanaan kegiatan seperti ini membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang banyak sekali.
Statistik memberikan solusi untuk persoalan itu dengan cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistik mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya.
B.       Karakteristik Berpikir Induktif
Kesimpulan yang ditarik secara induktif belum tentu benar, meskipun premis yang dipakai adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah. logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang bahwa premis-premis tertentu dapat ditarik. Jika selama bulan Oktober dalam beberapa tahun yang lalu hujan selalu turun, maka tidak bisa dipastikan bahwa selama bulan Oktober tahun ini akan turun hujan. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam hal ini hanyalah pengetahuan mengenai tingkat peluang untuk hujan dalam tahun ini juga akan turun.
Statistik merupakan pengetahuan yang memungkinkan untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut. Dasar dari teori statistik adalah teori peluang.  Menurut bidang pengkajian statistika dapat dibedakan sebagai statistika teoritis dan statistika terapan. Statistika teoritis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teori statistika, dimulai dari penarikan contoh, distribusi, penaksiran dan peluang. Statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoritis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya. Di sini diterapkan bagaimana cara mengambil sebagian populasi sebagai contoh, bagaimana cara menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat kekeliruan dan tingkat peluang, bagaimana menghitung harga rata-rata dan sebagainya.
C.      Statistika dan Tahap-tahap Metode Keilmuan
Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai obyek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam kegiatan keilmuwan yang dapat diperinci sebagai berikut:
  1. Observasi
Ilmuwan melakukan observasi mengenai apa yang terjadi, dia mengumpulkan dan mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang diselidikinya.
  1. Hipotesis
Untuk menerangkan fakta yang diobservasi, dia merumuskan dugaannya dalam sebuah hipotesis atau teori yang menggambarkan sebuah pola, yang menurut anggapannya, ditemukan dalam data tersebut.
  1. Ramalan
Dari hipotesis atau teori maka dikembangkanlah deduksi. Deduksi ini, jika teori yang dikemukakan itu memenuhi syarat, akan merupakan suatu pengetahuan baru, yang belum diketahui sebelumnya secara empiris, tetapi dideduksikan dari teori. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuannya untuk menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, bukan dalam pengertian menujum hari depan, namun menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
  1. Pengujian kebenaran
Ilmuwan lalu mengumpulkan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Mulai dari tahap ini maka keseluruhan tahap-tahap sebelumnya berulang seperti sebuah siklus. Jika ternyata teorinya didukung oleh data, maka teori tersebut mengalami pengujian dengan lebi berat, dengan jalan membuat ramalan yang lebih spesifik dan mempunyai jangkauan yang lebih jauh, dimana ramalan ini kebenarannya diuji kembali.
D.      Kegunaaan Statistika
Para statistisi memandang statistika mempunyai nilai guna sebagai berikut:
  1. Komunikasi ialah sebagai penghubung beberapa pihak yang menghasilkan data statistika atau berupa analisa statistika, sehingga beberapa pihak tersebut akan dapat mengambil keputusan melalui informasi tersebut.
  2. Deskripsi yaitu penyajian data dan mengilustrasikan data. Misalnya mengukur hasil produksi, laporan hasil liputan berita, indeks harga konsumen, laporan keuangan, tingkat inflasi, jumlah penduduk, hasil pendapatan dan pengeluaran negara dan sebagainya.
  3. Regresi yaitu meramalkan pegaruh data yang satu dengan data yang lainnya dan untuk mengantisipasi gejala-gejala yang akan datang.
  4. Korelasi yaitu untuk mencari kuatnya atau besarnya hubungan data dalam suatu penelitian.
    1. Komparasi yaitu membandingkan data dua kelompok atau lebih.
     
Filsafat ilmu bahasa
Filsafat Bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. ... Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah bahwa linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa.