Kamis, 22 November 2018

Bahasa, Matematika dan Statistika dalam filsafat ilmu

Matematika sebagai Bahasa
            Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artificial” yang baru menyampaikan arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa makna itu matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat dalam bahasa maka kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Lambang-lambang dari matematika dibuat secara artificial dan individual yang merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang kita kaji. Sebuah objek yang sedang kita telaah dapat kita lambangkan dengan apa saja yang sesuai dengan perjanjian kita. Pernyataan matematik mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.
B.       Sifat Kuantitatif dari Matematika
Matematika mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga maka penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif. Hal ini menyebabkan penjelasan dan ramalan dalam bahasa verbal tidak bersifat eksak, menyebabkan daya prediktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat. Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan konsep pengukuran. Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif,. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan kontrol yang lebih tepat dan cermat dalam ilmu. Pada dasarnya matematika diperlukan oleh semua disiplin keilmuan untuk meningkatkan daya prediksi dan kontrol dari ilmu tersebut.
C.      Matematika : Sarana Berfikir Deduktif
Matematika berfikir secara deduktif menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis yang tertentu. Pengetahuan yang ditemukan ini merupakan konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang telah kita temukan sebelumnya. Meskipun “tak pernah ada kejutan dalam logika” namun pengetahuan yang didapat secara deduktif ini sangat berguna dan memberikan kejutan yang sangat menyenangkan. Dari beberapa premis yang telah diketahui kebenarannya dapat ditemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah.
D.      Perkembangan Matematika
Ditinjau dari perkembangannya maka ilmu dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu:
  1. Sistematika
Pada tahap ini ilmu menggolong-golongkan objek empiris ke dalam kategori-kategori tertentu. Penggolongan ini memungkinkan untuk menemukan ciri-ciri yang bersifat umum dari anggota-anggota yang menjadi kelompok tertentu. Ciri-ciri yang bersifat umum ini merupakan pengetahuan bagi manusia dalam mengenali dunia fisik.2.  Komparatif
Pada tahap ini mulai melakukan perbandingan antara objek yang satu dengan objek yang lain, kategori yang satu dengan kategori yang lain, dan seterusnya. Kemudian mulai mencari hubungan didasarkan perbandingan antara di berbagai objek yang dikaji.
  1. Kuantitatif
Pada tahap ini mencari hubungan sebab akibat tidak lagi berdasarkan perbandingan melainkan berdasarkan pengukuran yang eksak dari objek yang sedang diselidiki. Bahasa verbal berfungsi baik dalam kedua tahap yang pertama namun dalam tahap ini maka pengetahuan membutuhkan matematika. Lambang-lambang matematika bukan hanya saja jelas namun juga eksak dengan mengandung informasi tentang objek tertentu dalam dimensi-dimensi pengukuran.
Di samping sebagai bahasa matematika berfungsi juga sebagai alat berfikir. Ilmu merupakan pengetahuan yang mendasarkan kepada analisis dalam menarik kesimpulan menurut suatu pola berpikir tertentu. Menurut Wittgenstein, matematika adalah metode berpikir logis yang dalam perkembangannya membutuhkan struktur analisis yang lebih sempurna.
Matematika pada garis besarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Tokohnya adalah Bertrand Russell dan Whitehead serta Pierre devfermat (1601-1665). Tidak semua ahli filsafat setuju dengan pernyataan bahwa matematika adalah pengetahuan yang bersifat deduktif. Tokohnya adalah Immanuel Kant (1724-1804)
Sejarah perkembangan matematika menurut Griffits dan Howson (1974) :
  1. Peradapan Mesir kuno dan daerah-daerah sekitar seperti Babylonia dan Mesopotamia
Zaman ini matematika telah digunakan dalam perdagangan, pertanian, bangunan dan usaha mengontrol alam seperti banjir. Aspek estetik dikembangkan dimana matematika merupakann kegiatan intelektual dalam kegiatan berpikir yang kreatif. Hal yang sama juga berlangsung di Babylonia dan Mesopotamia yang turut mengembangkan kegunaan praktis dalam matematika. Dalam peradapan Yunani inilah yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasional dengan menetapkan berbagai langkah dan defenisi tertentu. Euclid pada 300 SM yang mengumpulkan semua pengetahuan ilmu ukur dalam bukunya Element.
  1. Timur (Arab, India, Cina) tahun 1000
Zaman ini didapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal serta mengembangkan kegunaan praktis dari ilmu hitung dan aljabar yang telah digunakan dalam transaksi pertukaran. Ditemukan diantaranya kalkulus diferensial.
  1. Sistem matematika sebagai ilmu non euclid yang sudah dikemukakan oleh Gauss (1977-1855) dikembangkan oleh Lobachevskii (1973-1856), Bolyai (1802-1860) dan Riemann (1826-1866). Yang menemukan kegunaannya pada waktu Einstein menyusun teori Relativitas.
E.       Beberapa Aliran dalam Filsafat Matematika
  1. Logistik
Immanuel Kant (1724-1804), matematika bersifat sintetik apriori dimana eksistensi matematika bergantung dari pancaindera.
  1. Intuisionis
Jan brouwer (1881-1943), matematika cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.
  1. Formalis
Gottlob frege (1824-1925),  menekankan pada aspek formal dari matematika sebagai bahasa perlambang dan mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa lambang.
Perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan matematika malah sebaliknya dimana satu aliran memberi inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan yang disebut Black yang memperkukuh matematika sebagai sarana berpikir deduktif.
F.       Matematika dan Peradapan
Matematika dapat dikatakan hampir sama tuanya dengan peradapan manusia itu sendiri. Sekitar 3.500 SM bangsa Mesir Kuno telah mempunyai simbol-simbol yang melambangkan angka-angka. Matematika merupakan bahasa artifisial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah. Untuk itu diperlukan usaha tertentu untuk menguasai matematika dalam bentuk kegiatan belajar. Jurang antara mereka yang belajar dengan yang tidak belajar ternyata makin lama makin lebar. Matematika makin lama makin bersifat abstrak dan esoterik yang makin jauh dari tangkapan orang awam.
Matematika tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradapan manusia. Penduduk kota yang pertama adalah “makhluk yang berbicara” (talking animal), dan penduduk kota yang kurun teknologi ini adalah “makhluk yang berhitung” (calculating animal) yang hidup dalam jaringan angka-angka, bagi ilmu itu sendiri matematika meyebabkan perkembangan yang sangat cepat. Tanpa matematika maka pengetahuan akan berhenti pada tahap kualitatif yang tidak memungkinkan pada penalarannya lebih jauh.
Matematika sebagai suatu yamg imperatif : sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran deduktif. Suatu bidang keilmuan, apapun juga bidang pengkajiannya bila telah menginjak kedewasaan mau tidak mau akan bersifat kuantitatif. Ketidaktahuan tentang matematika sering menyebabkan suatu bidang keilmuan terpaku pada tahap kualitatif, dimana tanpa mengurangi rasa penghargaan kepadanya, tetap merupakan bidang keilmuan yang belum tumbuh sempurna. Angka tidak bertujuan untuk menggantikan kata-kata, pengukuran sekedar unsur menjelaskan persoalan yang menjadi pokok analisis utama. Teknik matematika yang tinggi bukan merupaka penghalang untuk mengkomunikasikan pernyataan yang dikandungnya dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Kebenaran yang merupakan fundasi dasar dari tiap pengetahuan, apakah itu ilmu, filsafat atau agama semuanya mempunyai karakteristik yang sama: sederhana, jelas: transparan bagai kristal kaca.

 STATISTIKA

Peluang merupakan dasar dari teori statistik yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno, Romawi dan bahkan Eropa pada abad pertengahan. Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam populasi tertentu.
A.      Statistika dan Cara Berpikir Induktif
Ilmu secara sederhana didefenisikan sebagai pengetahuan yang telah diuji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah bersifat faktual, dimana konsikuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindra maupun alat-alat yang membantu pancaindra tersebut. Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Kalau ditelaah lebih dalam maka pengujian merupakan proses pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Jika hipotesis itu didukung oleh fakta-fakta empiris maka peryataan tersebut diterima atau disahkan kebenarannya. Sebaliknya jika hipotesis tersebut bertentangan dengan kenyataan maka hipotesis itu ditolak.
Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Misalnya jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan itu merupakan kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun di tempat itu. Jadi, dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika deduktif. Di pihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan menggunakan deduksi. Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan sedangkan logika induktif berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.
Penarikan kesimpulan induktif pada hakikatnya berbeda dengan penarikan kesimpulan secara deduktif. Pada  penalaran deduktif, kesimpulan yang ditarik adalah benar jika premis-premis yang dipergunakan adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah. Pada penalaran induktif meskipun premis-premis yang dipergunakan adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah maka kesimpulan belum tentu benar.
Penarikan kesimpulan secara induktif  menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia maka hal yang paling logis adalah dengan jalan melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak umur 10 tahun di Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tidak diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut. Namun kegiatan seperti ini menghadapkan kepada masalah lain yang tak kurang rumitnya, yakni dalam pelaksanaan kegiatan seperti ini membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang banyak sekali.
Statistik memberikan solusi untuk persoalan itu dengan cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistik mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya.
B.       Karakteristik Berpikir Induktif
Kesimpulan yang ditarik secara induktif belum tentu benar, meskipun premis yang dipakai adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah. logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang bahwa premis-premis tertentu dapat ditarik. Jika selama bulan Oktober dalam beberapa tahun yang lalu hujan selalu turun, maka tidak bisa dipastikan bahwa selama bulan Oktober tahun ini akan turun hujan. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam hal ini hanyalah pengetahuan mengenai tingkat peluang untuk hujan dalam tahun ini juga akan turun.
Statistik merupakan pengetahuan yang memungkinkan untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut. Dasar dari teori statistik adalah teori peluang.  Menurut bidang pengkajian statistika dapat dibedakan sebagai statistika teoritis dan statistika terapan. Statistika teoritis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teori statistika, dimulai dari penarikan contoh, distribusi, penaksiran dan peluang. Statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoritis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya. Di sini diterapkan bagaimana cara mengambil sebagian populasi sebagai contoh, bagaimana cara menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat kekeliruan dan tingkat peluang, bagaimana menghitung harga rata-rata dan sebagainya.
C.      Statistika dan Tahap-tahap Metode Keilmuan
Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai obyek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam kegiatan keilmuwan yang dapat diperinci sebagai berikut:
  1. Observasi
Ilmuwan melakukan observasi mengenai apa yang terjadi, dia mengumpulkan dan mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang diselidikinya.
  1. Hipotesis
Untuk menerangkan fakta yang diobservasi, dia merumuskan dugaannya dalam sebuah hipotesis atau teori yang menggambarkan sebuah pola, yang menurut anggapannya, ditemukan dalam data tersebut.
  1. Ramalan
Dari hipotesis atau teori maka dikembangkanlah deduksi. Deduksi ini, jika teori yang dikemukakan itu memenuhi syarat, akan merupakan suatu pengetahuan baru, yang belum diketahui sebelumnya secara empiris, tetapi dideduksikan dari teori. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuannya untuk menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, bukan dalam pengertian menujum hari depan, namun menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
  1. Pengujian kebenaran
Ilmuwan lalu mengumpulkan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Mulai dari tahap ini maka keseluruhan tahap-tahap sebelumnya berulang seperti sebuah siklus. Jika ternyata teorinya didukung oleh data, maka teori tersebut mengalami pengujian dengan lebi berat, dengan jalan membuat ramalan yang lebih spesifik dan mempunyai jangkauan yang lebih jauh, dimana ramalan ini kebenarannya diuji kembali.
D.      Kegunaaan Statistika
Para statistisi memandang statistika mempunyai nilai guna sebagai berikut:
  1. Komunikasi ialah sebagai penghubung beberapa pihak yang menghasilkan data statistika atau berupa analisa statistika, sehingga beberapa pihak tersebut akan dapat mengambil keputusan melalui informasi tersebut.
  2. Deskripsi yaitu penyajian data dan mengilustrasikan data. Misalnya mengukur hasil produksi, laporan hasil liputan berita, indeks harga konsumen, laporan keuangan, tingkat inflasi, jumlah penduduk, hasil pendapatan dan pengeluaran negara dan sebagainya.
  3. Regresi yaitu meramalkan pegaruh data yang satu dengan data yang lainnya dan untuk mengantisipasi gejala-gejala yang akan datang.
  4. Korelasi yaitu untuk mencari kuatnya atau besarnya hubungan data dalam suatu penelitian.
    1. Komparasi yaitu membandingkan data dua kelompok atau lebih.
     
Filsafat ilmu bahasa
Filsafat Bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. ... Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah bahwa linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa.
 

Koherensi, Korespondensi, Pragmatisme dan Linguistik dalam Filsafat Ilmu

KOHERENSI

Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsisten. Suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu dapat diterima secara logis dan teori koherensi mamandang bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan yang lain sudah lebih dahulu diketahui,diterima dan diakui sebagai sesuatu yang benar. Dengan demikian suatu keputusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang sudah diketahui,diterima dan diakui kebenarannya.
    Suatu proposisi dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koherensi/konsisten dengan pernyatan sebelumnya yang dianggap benar.Faham koherensi menyatakan bahwa derajat keadaan saling berhubungan merupakan ukuran bagi kebenaran.Sedang keadaan saling berhubungan dengan semua kenyataan memberikan kebenaran mutlak.Teori koherensi adalah teori kebenaran sebagai keteguhan.
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila penyataan itu bersifat koheren atau konsisten,artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya,yaitu yang koheren menurut logika.Misalnya , “Semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar,sebab pernyataan tersebut adalah konsisten.
    Paham koherensi mengatakan, bahwa derajat keadaan saling berhubungan merupakan ukuran bagi derajat kebenaran, sedangkan keadaan saling berhubungan dengan semua menyataan memberikan kebenaran yang mutlak.

KORESPODENSI

Teori korespondensi [Correspondence Theory of Truth], yang kadang kala disebut The accordance Theory of Truth. Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [correspondence] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya. Suatu proposisi atau pengertian adalah benar jika terdapat suatu fakta yang selaras dengan kenyataannya, atau jika ia menyatakan apa adanya.
Kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang beralasan dengan realitas, yang serasi (corresponds) dengan situasi actual. Kebenaran ialah suatu yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi aktual. Kebenaran ialah persesuaian (agreement) antara pernyataan (statement) mengenai fakta dengan fakta aktual; atau antara putusan (Judgment) dengan situasi seputar (Enviromental situation) yang diberinya intepretasi. Jika suatu putusan sesuai dengan fakta, maka dapat dikatakan benar ; Jika tidak maka dapat dikatakan salah.
Teori korespondensi ini sering dianut oleh realisme/empirisme. K. Rogers, adalah orang penganut realisme kritis Amerika, yang berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara "esensi atau arti yang kita berikan" dengan "esensi yang terdapat didalam obyeknya".
Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independence (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahami. Itulah sebabnya realisme epitemologis kadangkala disebut obyektivisme. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau obyektivisme. Berpegang kepada kemandirian sebuah kenyataan tidak tergantung pada yang di luarnya. Selajunya kaum marxist mengenal dua macam kebenaran, yaitu kebenaran mutlak dan  kebenaran relatif
Kebenaran mutlak ialah kebenaran yang selengkapnya obyektif, yaitu suatu pencerminan dari realitas secara pasti mutlak. Kebenaran relatif adalah pengetahuan mengenai relaitas yang kesesuaianya tidak lengkap, tidak sempurna.
    Bagi orang kebanyakan sebuah pernyataan itu benar jika yang diungkapkannya merupakan fakta, bila ada pernyatan “ Di luar hawanya dngin”, maka hal itu benar jika di luar sungguh-sungguh benar hawanya dingin atau jika keadaan dingin di luar itu merupakan fakta.Orang mungkin mengatakan jika di luar hawanya dingin, maka proposisi tersebut akan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lain, dan bahwa karenanya keadaan saling berhubungan itu merupakan konsekuensi dari kebenaran suatu pernyataan. Paham yang mengatakan bahwa suatu pernyataan itu benar, jika makna yang dikandungnya sungguh-sungguh merupakan halnya, dinamakan “paham korespondensi”

PRAGMATISME

    Teori pragmatisme tentang kebenaran, the pragmatic [pramatist] theory of truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dapat dilaksanakan, dilakukan, tindakan atau perbuatan. Falsafah ini dikembangan oleh orang bernama William James di Amerika Serikat. Menurut filsafat ini dinyatakan, bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat. Suatu kebenaran atau suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Kebenaran adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, jika membawa akibat yang memuaskan, dan jika berlaku dalam praktek, serta memiliki nilai praktis, maka dapat dinyatakan benar dan memiliki nilai kebenaran.
               Menurut penganut praktis, sebuah kebenaran disebut benar jika memiliki nilai kegunaan [utility] dapat dikerjakan [workability], akibat atau pengaruhnya yang memuaskan [satisfactory consequence]. Dinyatakan sebuah kebenaran  jika memilki “hasil yang memuaskan “[satisfactory result], Dan dinyatakan kebenaran apabila : memuaskan keinginan dan tujuan manusia, dapat diuji kebenarannya dengan eksperimen dan mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.     Penganut pragmatisme meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu konsekuensi. William James, misalnya mengatakan bahwa proposisi”Tuhan ada”adalah benar bagi seseorang yang hidupnya mengalami perubahan karena percaya adanya Tuhan. Ini berarti bahwa proposisi-proposisi yang membantu kita mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang memuaskan terhadap pengamlan-pengalaman kita, adalah benar

LINGUISTIK

Linguistik berarti ilmu bahasa. Ilmu bahasa adalah ilmu yang objeknya bahasa.Bahasa di sini maksudnya adalah bahasa yang digunakan sehari-hari (atau fenomena lingual). Karena bahasa dijadikan objek keilmuan maka ia mengalami pengkhususan, hanya yang dianggap relevan saja yang diperhatikan (diabstraksi). Jadi yang diteliti dalam linguistik atau ilmu bahasa adalah bahasa sehari-hari yang sudah diabstraksi, dengan demikian anggukan, dehem, dan semacamnya bukan termasuk objek yang diteliti dalam linguistik.
Linguistik modern berasal dari Ferdinand de Saussure, yang membedakan langue, langage, dan parole (Verhaar, 1999:3). Langue adalah salah satu bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris. Langage berarti bahasa sebagai sifat khas manusia, sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret (dalam bahasa Indonesia ketiga istilah tadi disebut bahasa saja dan mengacu pada konsep yang sama). Sejalan dengan hal di atas, Robins (1992:55) mengatakan bahwa langue merupakan struktur leksikal, gramatikal, dan fonologis sebuah bahasa, dan struktur ini sudah tertanam dalam pikiran penutur asli pada masa kanak-kanak sebagai hasil kolektif masyarakat bahasa yang dibayangkan sebagai suatu kesatuan supraindividual. Dalam menggunakan bahasanya, penutur bisa berbicara di dalam lingkup langue ini; apa yang sebenarnya diucapkannya adalah parole, dan satu-satunya kendali yang dapat dia atur adalah kapan dia harus berbicara dan apa yang harus ia bicarakan. Kaidah leksikal, gramatikal, dan fonologis telah dikuasai dan dipakai, dan kaidah tersebut menentukan ruang lingkup pilihan yang dapat dibuat oleh penutur. Pembedaan ini seperti apa yang dibuat Chomsky, yaitu antara competence (apa yang secara intuisi diketahui penutur tentang bahasanya) dan performance (apa yang dilakukan penutur ketika dia menggunakan bahasanya).
Ilmu linguistik sendiri sering disebut linguistik umum, artinya ilmu linguistik tidak hanya menyelidiki salah satu bahasa saja tetapi juga menyangkut bahasa pada umumnya. Dengan memakai istilah de Saussure, dapat dirumuskan bahwa ilmu linguistik tidak hanya meneliti salah satu langue saja, tetapi juga langage, yaitu bahasa pada umumnya. Sedangkan linguistik teoretis memuat teori linguistik, yang mencakup sejumlah subbidang, seperti ilmu tentang struktur bahasa (grammar atau tata bahasa) dan makna (semantik). Ilmu tentang tata bahasa meliputi morfologi (pembentukan dan perubahan kata) dan sintaksis (aturan yang menentukan bagaimana kata-kata digabungkan ke dalam frasa atau kalimat). Selain itu dalam bagian ini juga ada fonologi atau ilmu tentang sistem bunyi dan satuan bunyi yang abstrak, dan fonetik, yang berhubungan dengan properti aktual seperti bunyi bahasa atau speech sound (phone) dan bunyi non-speech sound, dan bagaimana bunyi-bunyi tersebut dihasilkan dan didengar.

Fakta, Asumsi, Hipotesis dan Teori dalam Filsafat Ilmu

 Teori
Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya.
Tiga hal yang perlu diperhatikan tentang teori adalah:
1. Teori merupakan suatu proporsi yang terdiri dari konstrak yang sudah didefinisikan secara luas sesuai dengan hubungan unsur-unsur dalam proporsi tersebut secara jelas
2. Teori menjelaskan hubungan antar variable sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena yang diterangkan variabel-variabel tersebut dapat jelas
3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variable yang saling berhubungan.
Salah satu definisi mengenai teori ialah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena secara sisitematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep (Kerlinger, FN).
Definisi lain mengatakan bahwa teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari satu disiplin ilmu. Teori mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut;
1. harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontraksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan.
2. harus cocok dengan fakta-fakta empiris, sebab teori yang bagaimanapun konsistennya apabila tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.
3. Ada empat cara teori dibangun menurut Melvin Marx :
1) Model Based Theory,
Berdasarkan teori pertama teori berkembang adanya jaringan konseptual yang kemudian diuji secara empiris. Validitas substansi terletak pada tahap-tahap awal dalam pengujian model, yaitu apakah model bekerja sesuai dengan kebutuhan peneliti.
2) Teori deduktif,
Teori kedua mengatakan suatu teori dikembangkan melalui proses deduksi. Deduksi merupakan bentuk inferensi yang menurunkan sebuah kesimpulan yang didapatkan melalui penggunaan logika pikiran dengan disertai premis-premis sebagai bukti. Teori deduktif merupakan suatu teori yang menekankan pada struktur konseptual dan validitas substansialnya. Teori ini juga berfokus pada pembangunan konsep sebelum pengujian empiris.
3) Teori induktif,
Teori ketiga menekankan pada pendekatan empiris untuk mendapatkan generalisasi. Penarikan kesimpulan didasarkan pada observasi realitas yang berulang-ulang dan mengembangkan pernyataan-pernyataan yang berfungsi untuk menerangkan serta menjelaskan keberadaan pernyataan-pernyataan tersebut.
4) Teori fungsional
Teori keempat mengatakan suatu teori dikembangkan melalui interaksi yang berkelanjutan antara proses konseptualisasi dan pengujian empiris yang mengikutinya. Perbedaan utama dengan teori deduktif terletak pada proses terjadinya konseptualisasi pada awal pengembangan teori. Pada teori deduktif rancangan hubungan konspetualnya diformulasikan dan pengujian dilakukan pada tahap akhir pengembangan teori.
Berikut ini adalah definisi dan pengertian teori menurut beberapa ahli:
# JONATHAN H. TURNER
Teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi
# LITTLEJOHN & KAREN FOSS
Teori merupaka sebuah sistem konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena
# KERLINGER
Teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena.
# NAZIR
Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.
# STEVENS
Teori adalah suatu pernyataan yang isinya menyebabkan atau mengkarakteristikkan beberapa fenomena
# FAWCETT
Teori adalah suatu deskripsi fenomena tertentu, suatu penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau ramalan tentang sebab akibat satu fenomena pada fenomena yang lain.
# TRAVERS
a theory consist of generalizations intended to explain phenomena and that the generalizations must be predictive. Teori terdiri dar generalisasi yang dimaksudkan untuk menjelaskan dan memprediksi sebuah fenomena
# EMORY – COOPER
Teori merupakan suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variable yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasikan , sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu
# CALVIN S. HALL & GARDNER LINZEY
Teori adalah hipotesis (dugaan sementara) yang belum terbukti atau spekulasi tentang kenyataan yang belum diketahui secara pasti
# KING
Teori adalah sekumpulan konsep yang ketika dijelaskan memiliki hubungan dan dapat diamati dalam dunia nyata
# MANNING
Teori adalah seperangkat asumsi dan kesimpulan logis yang mengaitkan seperangkat variabel satu sama lain. Teori akan menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat dibandingkan dengan pola-pola yang diamati.
 Asumsi
Seperti telah dijelaskan bahwa postulat (asumsi/aksioma) atau patokan pikir itu adalah “suatu keterangan yang benar”, yang kebenarannya itu dapat diterima tanpa harus diuji atau dibuktikan lebih lanjut, digunakan untuk menurunkan keterangan lain sebagai landasan awal untuk menarik suatu kesimpulan.
 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang diteliti. Hipotesis merupakan saran penelitian ilmiah karena hipotesis adalah instrumen kerja dari suatu teori dan bersifat spesifik yang siap diuji secara empiris. Dalam merumuskan hipotesis pernyataannya harus merupakan pencerminan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih.
Hipotesis ini merupakan pasal dari bab postulat untuk merincinya satu persatu secara jelas dan tegas. Akan tetapi sebelum merincinya ada bebertapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
1) Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap yang diteliti;
2) Hipotesis dinyatakan dengan kalimat-kalimat “pernyataan” (statement) atau ungkapan yang di sebut”proposisi”;
3) Suatu proposisi (sebagai teori kecil/ad hock”) susunannya harus memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Kejelasan bentuk hubungan konsep-konsep / variable-variabel;
2. Derajat keeratan hubungan antar konsep / variable (proposition linkage);
3. Tinggi rendahnya nilai informasi (informative volue) dari proposisi.

Logika dan Penalaran

Logika
Logika atau penarikan kesimpulan secara umum memiliki dua jenis cara yaitu:
  1. Logika induktif; yaitu merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.
Contoh logika induktif ;
Gajah punya mata
Ayam punya mata
Demikian juga binatang lainnya
Kesimpulan, semua binatang punya mata
Logika induktif sangat ekonomis dan mudah untuk dilanjutkan proses penalaran setelahnya baik secara deduktif maupun induktif.

  1. Logika deduktif; yaitu sudah pasti kebalikan dari induktif, dimana ditarik suatu kesimpulan khusus dari suatu kesimpulan umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola pikir silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan tersebut bersifat mendukung yang kemudian dibedakan sebagai premis mayor dan minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
Contoh silogisme:
Semua Makhluk mempunyai mata      (mayor)
Si A adalah seorang makhluk                  (minor)
Jadi, si Polan mempunyai mata              (kesimpulan)
Kebenaran penarikan kesimpulan ini dapat diperiksa dengan menganalisa kebenaran dari premis-premis yang mendukungnya. Namun dapat terjadi pula kondisi premis yang mendukungnya benar namun penarikan kesimpulannya yang salah. Cara penarikan kesimpulan seperti ini sama dengan yang kita lakukan di matematika.

Nalar
Kedua, dan yang paling utama penalaran.  Yaitu kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangkan berpikir tertentu. Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara penarikan kesimpulan tertentu. Cara penarikan kesimpulan inilah yang kita kenal dengan logika. Diman logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara shahih” (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965).

Aspek Aksiologi dalam Filsafat Ilmu

Pengertian Aksiologi
Kata Aksiologi berasal dari bahasa yunani axios yang memiliki arti nilai, dan logos yang mempunyai arti ilmu atau teori. Jadi, Aksiologi adalah teori tentang nilai. Nilai yang dimaksud adalah suatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi, pemakalah akan menguraikan beberapa definisi tentang aksiologi, di antaranya:
1. Aksiologi yang terdapat di dalan bukunya Jujun S. suriasumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh.
2. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan social politik, yang akan melahirkan filsafst sosio-politik.

Aspek Aksiologi
Aspek aksiologis dari filsafat membahas tentang masalah nilai atau moral yang berlaku di kehidupan manusia. Dari aksiologi, secara garis besar muncullah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia, yaitu etika dan estetika.
Mengapa dalam filsafat ada pandangan yang mengatakan nilai sangatlah penting, itu karena filsafat sebagai philosophy of life mengajarkan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan yang berfungsi sebagai pengontrol sifat keilmuan manusia. Teori nilai ini sama halnya dengan agama yang menjadi pedoman kehidupan manusia.
1. Etika
Etika merupakan salah satu cabang ilmu fisafat yang membahas moralitas nilai baik dan buruk, etika bisa di definisikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan manusia atau masyarakat yang mengatur tingkah lakunya.
Etika berasal dari dua kata ethos yang berarti sifat, watak, kebiasaan, ethikos berarti susila, keadaban atau kelakuan dan perbuatan yang baik.
Dalam istilah lain dinamakan moral yang berasal dari bahasa latin mores, jamak dari mos yang berarti adat, kebiasaan. Dalam bahasa arab disebut akhlaq yang berarti budi pekerti dan dalam bahasa Indonesia dinamakan tata susila.
Dalam hal ini ada berbagai pembagian etika yang dibuat oleh para ahli etika, beberapa ahli membagi ke dalam dua bagian, yaitu etika deskriptif dan etika normative, ada juga yang menambahkan yaitu etika metaetika.
a. Etika deskriptif
Etika deskriptif adalah cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas seperti: adat kebiasaan, anggapan tentang baik atau buruk, tindakan yang di perbolehkan atau tidak. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau sub-kultur tertentu. Oleh karena itu, etika deskriptif ini tidak memberikan penilaian apapun, ia hanya memaparkan. Etika deskriptif lebih bersifat netral. Misalnya, penggambaran tentang adat mangayau kepala pada suku primitive.
Etika deskriptif dibagi ke dalam dua bagian: pertama, sejarah moral, yang meneliti cita-cita, norma-norma yang pernah di berlakukan dalam kehidupan manusia pada kurun waktu dan suatu tempat tertentu atau dalam suatu lingkungan besar yang mencakup beberapa bangsa. Kedua, fenomenologi moral, yang berupaya menemukan arti dan makna moralitas dari berbagai fenomena moral yang ada.
b. Etika Normatif
Etika normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Ia bisa mempersoalkan apakah norma itu benar atau tidak. Etika normatif berarti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik atau buruk.
Etika normatif kerap kali juga disebut filsafat moral atau juga disebut etika filsafati. Etika normatif dapat dibagi kedalam dua teori, yaitu teori nilai dan teori keharusan. Teori-teori nilai mempersoalkan sifat kebaikan, sedangkan teori keharusan membahas tingkah laku. Adapula yang membagi etika normative kedalam dua golongan sebagai berikut: konsekuensialis dan nonkonsekuensialis. Konsekuensialis berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh konsekuensinya. Adapun nonkonsekuensialis berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh sebab-sebab yang menjadi dorongan dari tindakan itu, atau ditentukan oleh sifat-sifat hakikinya atau oleh keberadaanya yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan prinsip-prinsip tertentu.
2. Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang mempersoalkan seni dan keindahan. Istilah estetika berasal dari kata Yunai yang mempunyai arti aesthesis, yang berati pencerapan indrawi, pemahaman intelektual, atau bisa juga berati pengamatan spiritual. Istilah art berasal dari kata latin ars, yang berarti seni, keterampilan, ilmu, atau kecakapan.
Estetika adalah cabang filsafat yang memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa, atau selera, kreasi, dan apresiasi tentang keindahan. Secara ilmiahnya, ia didefinisikan sebagai studi tentang nilai-nilai yang dihasilkan dari emosi-sensorik yang kadang dinamakan nilai sentimentalitas atau cita rasa atau selera. Secara luasnya, estetika didefinisikan sebagai refleksi kritis tentang seni, budaya, dan alam. Estetika dikaitkan dengan aksiologi sebagai cabang filsafat dan juga diasosiasikan dengan filsafat seni.
Estetika dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu estetika deskriptif dan estetika normative. Estetika deskriptif menguraikan dan melukiskan fenomena-fenomena pengalaman keindahan. Estetika normative mempersoalkan dan menyelidiki hakikat, dasar, dan ukuran pengalaman keindahan. Adapula yang membagi estetika kedalam filsafat seni (philosophy of art) dan filsafat keindahan (philosophy of beauty). Filsafat seni mempersoalkan status ontologis dari karya-karya seni dan memepertanyakan pengetahuan apakah yang dihasilkan oleh seni serta apakah yang dapat diberikan oleh seni untuk menghubungkan manusia dengan realitas. Filsafat keindahan membahas apakah keindahan itu ada apakah nilai indah itu objektif atau subjektif.
Isu Aksiologi
Problem aksiologis yang pertama berhubungan dengan nilai. Berkaitan dengan masalah nilai sebenarnya telah dikaji secara mendalam oleh filsafat nilai. Oleh sebab itu dalam kesempatan kali ini pemakalah sedikit akan membahas beberapa hal saja yang kiranya penting untuk dipaparkan berkaitan dengan masalah nilai. Tema-tema yang muncul seputar masalah ini misalnya apakah nilai itu subjektif atau objektif.
Perdebatan tentang hakikat nilai, apakah ia subjektif atau objektif selalu menarik perhatian. Ada yang berpandangan bahwa nilai itu objektif sehingga ia bersifat universal. Di mana pun tempatnya, kapanpun waktunya, ia akan tetap dan diterima oleh semua orang. Ambil misal mencuri, secara objektif ini salah karena hal itu merupakan perbuatan tercela. Siapa pun orangnya, di mana pun dan kapanpun pasti akan sepakat bahwa mencuri dan perbuatan tercela lainnya adalah salah. Jadi nilai objektif itu terbentuk jika kita memandang dari segi objektivitas nilai.
Sementara jika kita melihat dari segi diri sendiri terbentuklah nilai subjektif. Nilai itu tentu saja bersifat subjektif karena berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang penilaian yang diberikan oleh seseorang terhadap sesuatu. Tentunya penilaian setiap orang berbeda-beda tergantung selera, tempat, waktu, dan juga latar belakang budaya, adat, agama, pendidikan, yang memengaruhi orang tersebut. Misalnya bagi orang Hindu tradisi Ngaben (membakar mayat orang mati) merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap orang mati dan bagi mereka hal itu dianggap baik dan telah menjadi tradisi. Namun bagi orang Islam hal itu diangap tidak baik. Berhubungan seksual di luar nikah asal atas dasar suka sama suka hal ini tidak menjadi masalah dan biasa di Barat. Tapi bagi orang Islam hal itu jelas hina, jelek, dan salah. Bagi orang-orang terdahulu, ada beberapa hal yang dianggap tabu, tidak boleh dilakukan dan tidak pantas tapi hal-hal tersebut tidak lagi bermasalah bagi orang-orang sekarang ini. Dari sini bisa dilihat bahwa nilai itu bersifat subjektif tergantung siapa yang menilai, waktu dan tempatnya.
Berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang baik dan buruk bukan salah dan benar. Apa yang baik bagi satu pihak belum tentu baik pula bagi pihak yang lain dan sebaliknya. Apa yang baik juga belum tentu benar misalnya lukisan porno tentu bagus setiap orang tidak mengingkarinya kecuali mereka yang pura-pura dan sok bermoral, tapi itu tidak benar. Membantu pada dasarnya adalah baik tapi jika membantu orang dalam tindakan kejahatan adalah tidak benar.
Jadi, persoalan nilai itu adalah persoalan baik dan buruk. Penilaian itu sendiri timbul karena ada hubungan antara subjek dengan objek. Tidak ada sesuatu itu dalam dirinya sendiri mempunyai nilai. Sesuatu itu baru mempunyai nilai setelah diberikan penilaian oleh seorang subjek kepada objek. Suatu barang tetap ada, sekalipun manusia tidak ada, atau tidak ada manusia yang melihatnya. “Bunga-bunga itu tetap ada, sekalipun tidak ada mata manusia yang memandangnya. Tetapi nilai itu tidak ada, kalau manusia tidak ada, atau manusia tidak melihatnya. Bunga-bunga itu tidak indah, kalau tidak ada pandangan manusia yang mengaguminya. Karena, nilai itu baru timbul ketika terjadi hubungan antara manusia sebagai subjek dan barang sebagai objek.”
Kesimpulan
Aksiologi berasal dari bahasa yunani yaitu axios yang memiliki arti nilai, dan kata logos yang mempunyai arti ilmu atau teori. Jadi, Aksiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang teori tentang nilai.
Dalam mendefinisikan Aksiologis banyak para filusuf mendefinisikannya dengan berbagai macam ragam definisi salah satunya itu Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan social politik, yang akan melahirkan filsafst sosio-politik.
Studi tentang tindakan manusia biasanya hanya semata menggambarkan siapakah mereka dan bagaimana mereka. Dalam hal seperti ini, ilmu antropologi atau filsafat manusia memainkan peranan penting, misalnya ia menggambarkan berbagai macam kebudayaan manusia yang menunjukkan kebiasaan, adat, cara bahasa dan lainnya. Jadi, pertanyaannya Apakah manusia?
Tetapi, ketika pertanyaannya adalah Apa yang (se) harus (nya) dilakukan manusia?, inilah wilayah ilmu etika atau juga disebut sebagai filsafat kesusilaan. Hal ini berangkat dari fakta bahwa dalam hidup manusia bukan hanya bertindak, malainkan menilai tindakannya. Jadi, studi etika bukan berdasar pada what is, tetapi how to.